Blabber Mouth Disease

anything my blabber-mouthed mind would like to share.

I write poems, short stories, journals, or just a rude heartless scribbles.

disclaimer: every post is a form of twisted reality, otherwise advised. oh and, pardon my language.

free counters
Free counters

Nice Posts
Nice Blogs

Pujangga yang kalut telah menemukan kemana luapan jiwanya bermuara,
Air yang dahulu tenang telah menghanyutkan seorang dara,
Sang punguk telah lama memeluk purnama,
Dan api yang kikuk,
Bertemu api lain yang kikuk,

Berusaha tetap menyala.

Kemang, 31 Agustus 2014. 

Kamu tahu sepenuhnya bahwa bukan ruang yang memberi kita jarak, melainkan kesempatan dan pilihan-pilihan.

Saya tahu sepenuhnya bahwa dalam batas-batas maya dan hal-hal yang sepatutnya terlihat seperti sebagaimana mestinya, ada keputusan yang layaknya kita pertimbangkan matang-matang.

Ini hanya satu dari serangkaian pola yang telah berputar dalam roda kehidupan saya yang tak banyak berubah. Hanya pemeran yang kian berganti.

Apakah bersama dalam satu waktu diantara ratusan ketidakhadiran, belum cukup?

Apakah salah satu dari kita harus berhenti jadi diri sendiri?

Apakah yang kasat mata (meski tak sepenuhnya bisa teraba) adalah pilihan yang lebih baik?

*

Barangkali bagi saya, meniti jarak untuk menjalin sesuatu yang samar-samar, adalah sebuah adiksi. Dan perjalanan singkat, serta letupan dan kejutan tak terduga, menjadi sesuatu yang dinanti-nanti. 

Saya tak benar-benar berharap ada setidaknya sebuah variabel yang membuat kami terikat, selain jalinan tak kasat mata itu sendiri. Barangkali perlu satu dekade lagi untuk mencapai (jika bukan “menembus”) batas-batas yang saat ini masih tabu. Barangkali bahkan, tak akan pernah terjadi.

Meski, adakah waktu pernah bersahabat dengan nasib?

Sometimes I don’t understand architecture at all.

I wonder if I read the right books,

write the right structure,

choose the right profession,

elect a right president…

-

things that mattered once that no longer matter now for me is asking my thought to compose the right answer.

but the fact that it is no longer matter, so why bother?

Bus Transjakarta jurusan Harmoni-Lebak Bulus, 22 Juni, sekitar pukul 10 malam. 

"Bu, anaknya bayar tiket busway gak?"

Seorang perempuan dewasa, barangkali berumur 30, melontarkan pertanyaan retoris kepada seorang ibu yang anaknya duduk di kursi sebelahnya, tertidur. Ia sendiri tengah berdiri berdesakan bersama penumpang lain. Semua orang terlihat lelah. Bahkan sebagian telah menurunkan level harga dirinya hingga ke lantai bus. Saya tahu kemana arah pertanyaannya.

Hari ini ulang tahun kota Jakarta yang ke 487. Simpul-simpul keramaian kota tentu riuh. Berbagai lapisan masyarakat memutuskan keluar rumah dan menghabiskan energi akhir pekan dan sesisih lembar di dompet mereka untuk menjadi bagian dari selebrasi kota. Pemerintah sendiri punya kado yang indah untuk warganya yang menggunakan transportasi umum dengan setia.

"Hari ini busway kan gratis, Bu." 

Perempuan itu tidak melanjutkan protesnya. Sementara anak si ibu tetap lelap di atas kursi yang (sebagian orang pikir) bukanlah haknya.

-

Selamat ulang tahun, kotaku. Semoga nilai-nilai pancasila tidak berhenti sampai di sila pertama.

Sesuatu bisa begitu lembut, mengundang, dan menggoda. Namun dalam jarak yang cukup, ia dapat begitu saja mengubah warna udara.

Di masa lampau beberapa orang terdekat saya adalah penggila superhero dan sci-fi. Menjadi bagian dari keseharian mereka, saya jadi turut menikmati (meski tak sepenuhnya tergila-gila) dengan komik, novel, dan film-filmnya. Secara tidak langsung saya menikmati dan mengamati plot hitam-putih, salah-benar, antagonis-protagonis, villain-superhero. 

Di tengah menonton salah satu film saya mengambil kesimpulan,

"Apakah villain itu terbentuk, ketika seorang superhero yang menjadi patokan moral masyarakat, sengaja ataupun tidak, memberikan penolakan atau tanggapan negatif terhadap sebuah karakter tertentu, yang pada akhirnya memutuskan untuk mengamini tanggapan tersebut? Yang barangkali apabila sang superhero bertindak lain, seorang karakter villain baru tidak jadi terbentuk?"

Lupakan membahas dan menjabarkan karakter-karakter mana saja dan di cerita apa saja premis di atas menjadi valid. Saya lebih tertarik membahas ini: pernahkah di kehidupan kita, secara sadar ataupun tidak, kita berlaku sesuatu yang mengubah pandangan seseorang? Ini adalah perspektif lain dari banyak cerita tentang orang-orang yang jalan hidupnya berubah karena sepatah kata random yang dicetuskan seseorang di hari yang random pada momennya tepat. Apakah kita secara tak sadar telah menginspirasi dan membentuk sebuah persona, di keseharian kita?

Hal-hal sederhana saja contohnya. Di acara kaderisasi, ketika kita menjadi senior, argumen kita barangkali terpatri begitu dalam kepada junior yang sedang berada di bawah tekanan. Atau barangkali atasan terhadap bawahan. Guru terhadap murid. Bahkan sesama kawan. 

Mengimani (sendirian) premis awal saya di atas, saya menggarisbawahi sebuah niat:

Bahwa pribadi yang lengkap dan utuh tak akan begitu mudah terpahat selenting guyon yang tak matang diolah. Yang hanya sekelebat dan tak bermaksud jahat.

Dan lidah.

Lidah adalah alat. Lidah adalah kambing hitam. Lidah yang membuat semuanya menjadi mungkin.

di-beranda:

Oleh: Rofianisa Nurdin

Barangkali kita masih samar-samar teringat betapa inginnya kita memiliki teman seperti Doraemon, atau setidaknya, sebuah “pintu ke mana saja.” Imajinasi kanak-kanak tentang gerbang menuju ruang pelarian; dunia yang benar-benar asing, yang tak tahu kita punya setumpuk PR di rumah. Barangkali dalam setiap kita terdapat sisi kekanakan yang diam-diam masih menyimpan proyeksi harapan tersebut, memeliharanya hati-hati, mengimaninya di alam bawah sadar.

Sampai suatu ketika, kita diperkenalkan oleh Internet. Dunia di mana benak kita diubah menjadi bit-bit melalui jemari menuju sekotak layar berwarna, dibuai dengan iming-iming untuk dapat melanglangbuana kemanapun yang dikehendakinya.

Sebuah realitas alternatif dengan masing-masing pribadi sebagai pencipta bagi avatar dirinya. Wadah untuk menjajakan, memamerkan, mendokumentasi apa-apa yang mereka bayangkan dapat menjadi representasi diri; apapun yang dapat dihasilkan dari tarian jemari dan kemampuan mereka aksara. Jadilah sebuah persona baru! Tambal-sulam dari harapan, observasi sekitar, dan sedikit karakter awal yang dipelintir sehingga sedikit-banyak, dramatis.

Di dunia itu, apapun bisa terjangkau oleh sebaris kata kunci. Satu klik saja untuk berpindah ke lain lokasi. Perkara menemukan dan ditemukan hanya berjarak selemparan spasi.

Sehingga tak sedikit benak-benak yang terperangkap di dunia baru tersebut, mengabaikan kehidupan sosial jasmaninya di dunia yang sebenar-nya. Menjadi jasad-jasad kosong yang bergerak mengikuti arus, sembari menatap sekotak kecil jendela menuju dunia maya di tangannya. Meski tak sedikit pula yang berhasil mengambil keuntungan dari keduanya.

Seorang berkacamata seperti pantat botol dan memiliki kantung mata yang seakan tak pernah memiliki cukup jam tidur sepanjang hidupnya itu, bisa jadi seorang pemimpin klan besar di dunia peperangan game online.

Perempuan muda yang tak akan kau lirik dua kali jika berpapasan di jalan itu, bisa jadi penakluk belasan laki-kali kaukasia di benua nun jauh sana.

Anak kecil ingusan yang kerap merengek dibelikan eskrim di toserba 24 jam itu, bisa jadi seorang bintang instagram yang kedipan matanya menyihir banyak jempol untuk meninggalkan jejak di postingannya.

Kini semua manusia memiliki gangguan identitas disosiatif. Setiap orang bukanlah dirinya yang sebagian orang kenal. Orang-orang bipolar.

Kini semua manusia, setidaknya, memiliki sebuah kehidupan dibalik lapisan-lapisan kehidupan lain yang begitu gegap, yang dapat ia pelihara.

Meski setumpuk PR, selamanya menunggu di balik pintu yang tak akan ia buka.

Second edition of our collective stories from the women’s perspective. My piece. 

Kucrit, kucing remaja yang setahun terakhir ini ada di rumah saya, sudah seminggu tidak pulang ke rumah. Telah dua akhir pekan saya pulang ke rumah mendapati Kucrit tidak ada. Ada perasaan kehilangan yang meski kecil, tapi terasa. 

Ia bukan milik saya, karena sejatinya kucing kampung adalah kucing-kucing yang memelihara kebebasannya. Setiap hari ia dan abangnya (yang lebih dulu sering minta makan ke rumah) datang menunggu di depan mangkuk kosong, mengeong minta di isi. Mereka bahkan tahu di mana makanan untuk mereka disimpan.

Meski saya tahu tak ada komitmen, dan bahkan saya hanya seminggu sekali pulang ke rumah, rutinitas bersama dalam kesempatan-kesempatan singkat itu tetap saja meninggalkan jejak. Saya jadi terbiasa tertidur di ruang tamu, lalu Kucrit datang dan hinggap di atas kaki, memijat-mijat dengan kaki-kakinya yang gempal. Perutnya sungguh bulat dan gaya tidurnya aneh (sedikit vulgar apabila kita membayangkan gaya tidurnya diaplikasikan pada manusia). Fitur mukanya lucu, seperti selalu melamun, dan ia tidak seperti abangnya yang sombong sekali tak mau dipangku jika sudah kenyang. Kucrit merelakan dirinya menjadi boneka yang saya timang-timang, meski setelah makan ia mengantuk dan ingin tidur tanpa diganggu.

Membayangkannya lagi saya ingin menangis. Barangkali saya sebenarnya telah menangis, meski tidak tersedu-sedu seperti ketika sebagian koleksi buku-buku lama saya berpindah tempat entah kemana. Lucu juga, karena nenek-kakek saya meninggal saja saya tidak menangis. Barangkali keterkaitan batin tidak memandang hubungan darah (atau bahkan spesies), melainkan seberapa signifikannya hal-hal dilakukan bersama. Dan bagaimana hubungan timbal-balik antar keduanya.

Sebagian logika saya (yang belakangan terlalu dominan mempengaruhi preferensi saya dalam menyikapi pilihan hidup) berkata bahwa tak semestinya saya mengkhawatirkan Kucrit. Pertama, ia pun barangkali tak peduli, dan tidak menjadikan saya sebagai variabel penting dalam menentukan langkah yang akan ia tempuh. Kedua, sesungguhnya kita tidak pernah benar-benar memiliki apa-apa. Kata orang segala sesuatu hanya titipan Tuhan.

Barangkali sebagian diri saya telah hilang, yang kemudian diisi oleh serpihan-serpihan kecil yang bersifat sementara (hanya agar saya merasa seakan utuh dan ada) seperti Kucrit, abangnya, dan Sashimi si ikan cupang yang telah sekarat sendirian di kantor. Juga hal-hal yang saya lakukan demi merasa penuh. Demi merasa saya adalah milik saya seutuhnya. Barangkali, sebagian diri saya memang belum pernah ada. 

Bagaimanapun juga, Kucrit, semoga jadi kucing yang gagah dan tetap jenaka, di jalanan ataupun di surga.

What are architects?

Are they actually just machines of policy makers? Creating visual contracts to defend a company’s brand, and to defend their clients’ wants and aspirations?

Or are they individual beings who have their own thoughts and aspirations, free to make and create high standards of design that they set to themselves?

Which way we wanna go, and why?

Temenku lagi galau arsitektur, kayak aku gitu deh waktu taun pertama lulus :p

awesomeguidebdg:

Greetings, folks! 

We welcome you to enjoy our sketches and stories about our amazing experience as Bandung city-flaneurs. The emerging creative city has many hidden local secrets to be witnessed, not only as a mere tourist but as a magical part of the city itself. 

Our journey ranged from visiting historical buildings to modern-hippest cafe in town, from cycling around the city to casual forest-walking to Taman Hutan Raya (city forest park) Juanda; recorded in sketches as our personal memento. Being in the era of the Internet, of course you can find out yourself about each place’s streams of images and sweet bluffs. But as Pidi Baiq (the so-called romantic Prophet of Bandung) said:

"Bandung bukan cuma masalah geografis, bagiku, tetapi juga melibatkan perasaan. (Bandung is not only geographical matter, for me, but also sentimental matter.) ”

- Pidi Baiq : 141

So we present you our Awesome Guide to Bandung! Enjoy. ;)

My little weekend project <3