Blabber Mouth Disease

anything my blabber-mouthed mind would like to share.

I write poems, short stories, journals, or just a rude heartless scribbles.

disclaimer: every post is a form of twisted reality, otherwise advised. oh and, pardon my language.

free counters
Free counters

Nice Posts
Nice Blogs

di-beranda:

Oleh: Rofianisa Nurdin

Mereka bertanya mengapa bahasa Inggris saya tidak memiliki aksen Indonesia. Dalam sebuah pesanggrahan selama seminggu di George Town, Penang, seorang teman dalam tim malah baru menyadari saya adalah seorang Indonesia di hari-hari terakhir.

Beberapa bulan setelahnya di pusat kota Singapura, seorang pekerja konstruksi melayu yang mengerjakan paviliun bambu kami di sana suatu kali bertanya, “Are you Singaporean? Your accent is different with your (Indonesian) friend.”

Setahun kemudian saya kembali ke George Town untuk mengikuti lokakarya arsitektur di akhir pekan. Pernyataan serupa dari teman sesama peserta muncul lagi. “You sound Malay to me.

Maka izinkan saya bercerita tentang sebuah perspektif yang sudah beberapa lama mengendap, dan barangkali dapat relevan dalam situasi ketika semua orang bersorak-sorai untuk demokrasi dan kebebasan memeluk identitas, seminor apapun. Sementara di sisi lain, persiapan menyambutMutual Recognition Arrangement(MRA) ASEAN sudah mulai menggaung. Kurang dari dua tahun lagi, ada batas-batas antar negara yang akan semakin samar, baik yang terlihat dari kasat mata maupun yang akan terjadi tanpa kita sadari pada individu yang berada di dalamnya.

-

Saya mulai secara aktif berbahasa Inggris di Singapura, ketika saya baru lulus kuliah dan mengerjakan proyek video dokumentasi di sebuah festival arsitektur tahunan di sana. Selama dua bulan saya banyak berinteraksi dengan orang-orang lokal; dari orang-orang konstruksi hingga otoritas, dari turis-turis asing hingga ekspat yang lama menetap. Berbahasa selayaknya lawan bicara adalah upaya saya untuk berbaur, yang pada akhirnya membentuk karakter berbahasa saya, tanpa disadari.

Dalam euforia menemukan dunia baru, sempat terlintas proyeksi masa depan saya di negara yang asing ini. Saya menawarkan diri menjadi bagian dari sebuah inisiatif lokal, yang saat itu gagal karena terbentur regulasi tentang pekerja asing. Pada saat itu, kebijakan MRA ASEAN belum menggaung. Pergerakan pekerja antar-bangsa terjadi pada kapasitas tertentu dengan lapisan-lapisan peraturan yang mengikat. Maka, pada jarak yang dianggap cukup, sebagai pengamat dan partisipan, saya mengikuti inisiatif ini dengan masih berada pada konteks di mana saya berasal.

Dua tahun setelahnya, ketika kebijakan MRA hadir di depan mata, kemungkinan-kemungkinan baru mulai terbuka. Pun terbersit pertanyaan:

Kemana nasionalisme harus dialamatkan ketika kita bebas bekerja, hidup, berinteraksi, dan menetap dalam lingkup yang lebih besar dari sebuah negara? Penapis apa yang harus kita gunakan untuk mempertahankan identitas budaya bangsa? Sementara pada saat yang bersamaan, kita harus memperlebar batas toleransi yang tak bisa dipungkiri ketika harus berinteraksi dengan keragaman yang lebih besar lagi? Akankah masyarakat lokal menciptakan tameng tak terlihat di sekeliling mereka, dan memandang asing dan penuh curiga kepada orang-orang tak sebangsa yang mencari makan di tanah yang sama? Akankah tanah yang kita jejak, alih-alih memiliki budaya yang semakin kaya, malah menjadi sebuah padang anonimitas dimana identitas budaya adalah tabu?

Seorang Z memberikan saya perspektif baru tentang pertanyaan terakhir.

Z (baca: Zi) adalah sebuah nama universal. Ia bisa dimiliki seorang perempuan maupun pria. Ia tak beralamat kepada ras manapun. Z adalah nama yang ia hadiahkan untuk dirinya sendiri, sebagai manifestasinya terhadap isu multi-ras versus kebangsaan yang terjadi di Malaysia. Salah satu hal yang menggelitik nalarnya adalah tiap kali ia ditanya, “What (race) are you?”karena ia fasih berbicara bahasa Melayu, meski di permukaan ia adalah seorang perempuan Tionghoa.

Z mengimani bahwa identitas budaya adalah sesuatu yang bersifat horizontal, yang berarti, tidak ada hierarki dalam menempatkan identitas.What are you? Malaysian first? Chinese first? Or Malay first?Ia berpendapat bahwa satu pribadi dapat merupakan irisan dari berbagai identitas: Indian-Malaysian, Dutch-Indonesian, Afro-American. Orang Betawi di Jakarta bahkan adalah peranakan dari bermacam suku dan ras yang bermukim di sekitar pelabuhan Sunda Kelapa (sumber: Wikipedia). Suku dan ras adalah sesuatu yang terjadi secara alamiah, yang dapat terwujud dalam penampilan jasmaniah, sedangkan kenegaraan adalah batas yang diciptakan oleh manusia. Sementara, Benedict Anderson sendiri percaya bahwa sebuah bangsa adalah komunitas yang terbentuk secara sosial (socially constructed community), yang digambarkan oleh masyarakat yang memandang diri mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Anderson:Imagined Communities, 1983.).

Dalam argumennya, Z memperkenalkan saya kepada sebuah nama: Dr. Farish A. Noor.

“Gone are the days when a Malaysian, Filipino or Singaporean would be born in his country, study in the same country, work and die in the same country. In the near future, we may well live to see the birth of the first ASEAN generation who are born in one country, study in another, work in another and die in another, all the while feeling that he or she is still at home, in Southeast Asia.”

Dr. Farish adalah seorang ilmuwan politik dan sejarawan berkebangsaan Malaysia yang saat ini menjadiAssociate Professordi S RajaratnamSchool of International Studies, NTU Singapura. Ia mengkategorikan dirinya sebagai warga Asia Tenggara yang berkomitmen penuh kepada ASEAN. Nasionalisme bukan sahabat karibnya.

Ia berpendapat bahwa negara-negara di ASEAN di era modern ini terhimpit di antara sejarah yang saling beririsan dan kompleks, serta perbatasan politis yang menciptakan bentukan baru bernama negara-bangsa. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi terjadinya gesekan di perbatasan, perebutan wilayah, dan pengklaiman budaya antar negara tetangga.

“I long for the day when the people of Southeast Asia can see themselves as ASEAN citizens, but despite the fact that the ASEAN Community is almost upon us (by 2015), many of us in the region are still driven by primordial attachments to place, identity, language and culture.

“No matter how hard some of the hyper-nationalists among us may try, they cannot deny the fact that we share a common, interconnected history/histories. These histories often overlap, make contesting demands and claims, and contradict each other. But that is the nature of history as a discourse, for it is a narrative without a full-stop and is a discursive terrain that has to be looked at from a multiplicity of angles.

“Look around us in Southeast Asia today and what do we see, but postcolonial nation-states that continue to police their people, their borders, their identities and the very epistemology and vocabulary that frames our understanding of ourselves and the Other. Categories like “citizen” and “foreigner” are modern labels that we, Southeast Asians, have inherited from our colonial past along with dubious concepts like racial difference.”

(Farish A. Noor: Between A Fluid Region and A Hard State, 2013.)

Meski begitu, bukan berarti nasionalisme serta-merta dapat dimentahkan begitu saja. Nasionalisme ada untuk membangun keterikatan warga kepada negara. Dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri, rentang sejarah dan memori kolektif warga telah bertahan dan berevolusi selama 69 tahun keberjalanannya sebagai negara merdeka. Adapun kontradiksi yang timbul dari pergolakan kedua kutub (negara-bangsa dan identitas budaya pra-kolonial), selayaknya dapat menjadi sebuah dinamika yang memicu kita untuk kritis menakar toleransi dan konsistensi loyalitas.

Ada seorang penulis yang bergerak dalam advokasiopen bordersdari sudut pandang moral dan praktis bernama John Lee, yang menyimpulkan begini:

“I am of Chinese-Filipino descent, born in Japan, raised in Singapore and Malaysia, studied in the US and the UK, and now working in the US. I have multiple affiliations, loyalties, identities. These are just as arbitrary as the accidents of fate that determine which sports team you root for, and yet no less meaningful. We have learned to live and let live in our sporting affiliations (for the most part, the occasional European football or Canadian hockey riot notwithstanding), recognising their arbitariness but reveling in their significance. We can do the same with the nation-state and its borders.”



“So, what are you, Z?”

“I’m beyond gender. I’m beyond race. I’m beyond nationality. I am now is what I am in the context, in this body, with the people around me. This is my identity. This is me.”

Di masa depan, yang akan kita jelang tak lama lagi, mengalamatkan nasionalisme barangkali memang harus lebih dari sekadar fasih berbahasa nasional; lisan maupun tulisan. Memahami sejarah tempat kita berasal dan mengakar, merawat budaya yang telah memahat karakter kita, menjadi warga negara yang taat dan kritis mengamati pergerakan pemerintah, dan mencintai tanah air yang kita pijak adalah beberapa hal yang barangkali dapat mendefinisikan ke mana loyalitas kenegaraan kita tertuju.

Karena dalam tahun-tahun ke depan, dalam upaya kita mencari penghidupan yang layak, bisa jadi hati kita terpikat oleh bahasa yang lain, budaya yang berbeda, kebijakan yang lebih masuk akal, belahan jiwa yang mengakar di tanah yang tadinya asing. Kita akan memanggil sebuah tempat tadi sebagai kampung halaman yang baru, karena disanalah kita sebagai makhluk sosial berinteraksi dan membangun peradaban.

Kita yang baru, akan mendefinisikan masa depan.

*


Antarabangsa, George Town, Penang, Malaysia.
Minggu, 17 Agustus 2014.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah percakapan kasual di tempat orang-orang lokal Penang, pendatang, bahkan turis berbaur; di malam ketika bendera-bendera merah-putih berkibar di hati warga negara Indonesia, di tanah manapun mereka berada.

My write up for Beranda 3rd issue : Negeri di Atas Angan

Sejatinya seorang Api memiliki hubungan yang sulit dengan Air.

Tapi Api senantiasa senang tenggelam, terhanyut, terombang-ambing. Api menikmati perasaan terambang di dalamnya. Merasakan kedalamannya yang seakan tanpa dasar. Menerawang dunia yang tak tergapai di sana.

Dahulu seorang Angin mengajarkan Api bernyanyi, juga berenang. Tapi seorang Angin pula yang pada dekade-dekade setelahnya tak menganjurkan untuk mendalaminya. Terlambat. Api kerap larut dalam nyanyian, dan seringkali kalut mencumbu air kapanpun ada kesempatan. Api dan Angin, meski diramalkan punya keterikatan mutualistik, nyatanya tak terlalu kompatibel dalam adu pendapat.

Api bersikukuh bertahan dalam Air, meski ia sadar Air akan memadamkan dirinya. Menjadikannya tiada.

Angin yang lain, menyelamatkannya.

Angin menciptakan ombak atas Air, membuatnya bergejolak, mengalihkan perhatiannya.
Di waktu yang sama Angin memberikan nafas kepada Api untuk tetap membara. Dibawanya Api ke tepian. Dititipkannya kepada Tanah, untuk dijaga.

Tanah adalah elemen yang netral dan bersahaja. Ia tempat berpulang bagi siapapun yang membutuhkannya. Tapi bukan “pulang” yang sedang dicari seorang Api, melainkan “pencarian” itu sendiri.

Begitulah, Api kembali pergi.

Melupakan Air.
Menjauhi Tanah.
Dan tak mengacuhkan Angin.

Di kejauhan ia melihat Api yang lain. Sebentuk Api yang hangat. Yang berdiam di sudut; menyinari yang tersesat, menghidupkan suasana, memberi kebaikan kecil bagi yang beririsan jalan dengannya.

Dari kejauhan, ia berharap bisa mendekat.

"What if you have cancer?"
“I’ll die eventually.”
“Not a chance for fighting it?”
“Why bother? We all are gonna die anyway, anyhow…”

Saya pernah begitu takut mati.
Begitu takut untuk meninggalkan apa-apa yang saya miliki.
Begitu takut untuk kehabisan waktu untuk menggapai mimpi-mimpi.

Keinginan untuk hidup lahir dari ego.
Arogansi yang memandang bahwa selain kita, tak ada lagi yang akan melanjutkan jejak yang sama.
Keberpemilikan buta yang tak rela orang-orang yang kita cintai akan melanjutkan hidup dengan bahagia tanpa kita.

Kini, saya tak takut mati.

Pujangga yang kalut telah menemukan kemana luapan jiwanya bermuara,
Air yang dahulu tenang telah menghanyutkan seorang dara,
Sang punguk telah lama memeluk purnama,
Dan api yang kikuk,
Bertemu api lain yang kikuk,

Berusaha tetap menyala.

Kemang, 31 Agustus 2014. 

Kamu tahu sepenuhnya bahwa bukan ruang yang memberi kita jarak, melainkan kesempatan dan pilihan-pilihan.

Saya tahu sepenuhnya bahwa dalam batas-batas maya dan hal-hal yang sepatutnya terlihat seperti sebagaimana mestinya, ada keputusan yang layaknya kita pertimbangkan matang-matang.

Ini hanya satu dari serangkaian pola yang telah berputar dalam roda kehidupan saya yang tak banyak berubah. Hanya pemeran yang kian berganti.

Apakah bersama dalam satu waktu diantara ratusan ketidakhadiran, belum cukup?

Apakah salah satu dari kita harus berhenti jadi diri sendiri?

Apakah yang kasat mata (meski tak sepenuhnya bisa teraba) adalah pilihan yang lebih baik?

*

Barangkali bagi saya, meniti jarak untuk menjalin sesuatu yang samar-samar, adalah sebuah adiksi. Dan perjalanan singkat, serta letupan dan kejutan tak terduga, menjadi sesuatu yang dinanti-nanti. 

Saya tak benar-benar berharap ada setidaknya sebuah variabel yang membuat kami terikat, selain jalinan tak kasat mata itu sendiri. Barangkali perlu satu dekade lagi untuk mencapai (jika bukan “menembus”) batas-batas yang saat ini masih tabu. Barangkali bahkan, tak akan pernah terjadi.

Meski, adakah waktu pernah bersahabat dengan nasib?

Sometimes I don’t understand architecture at all.

I wonder if I read the right books,

write the right structure,

choose the right profession,

elect a right president…

-

things that mattered once that no longer matter now for me is asking my thought to compose the right answer.

but the fact that it is no longer matter, so why bother?

Bus Transjakarta jurusan Harmoni-Lebak Bulus, 22 Juni, sekitar pukul 10 malam. 

"Bu, anaknya bayar tiket busway gak?"

Seorang perempuan dewasa, barangkali berumur 30, melontarkan pertanyaan retoris kepada seorang ibu yang anaknya duduk di kursi sebelahnya, tertidur. Ia sendiri tengah berdiri berdesakan bersama penumpang lain. Semua orang terlihat lelah. Bahkan sebagian telah menurunkan level harga dirinya hingga ke lantai bus. Saya tahu kemana arah pertanyaannya.

Hari ini ulang tahun kota Jakarta yang ke 487. Simpul-simpul keramaian kota tentu riuh. Berbagai lapisan masyarakat memutuskan keluar rumah dan menghabiskan energi akhir pekan dan sesisih lembar di dompet mereka untuk menjadi bagian dari selebrasi kota. Pemerintah sendiri punya kado yang indah untuk warganya yang menggunakan transportasi umum dengan setia.

"Hari ini busway kan gratis, Bu." 

Perempuan itu tidak melanjutkan protesnya. Sementara anak si ibu tetap lelap di atas kursi yang (sebagian orang pikir) bukanlah haknya.

-

Selamat ulang tahun, kotaku. Semoga nilai-nilai pancasila tidak berhenti sampai di sila pertama.

Sesuatu bisa begitu lembut, mengundang, dan menggoda. Namun dalam jarak yang cukup, ia dapat begitu saja mengubah warna udara.

Di masa lampau beberapa orang terdekat saya adalah penggila superhero dan sci-fi. Menjadi bagian dari keseharian mereka, saya jadi turut menikmati (meski tak sepenuhnya tergila-gila) dengan komik, novel, dan film-filmnya. Secara tidak langsung saya menikmati dan mengamati plot hitam-putih, salah-benar, antagonis-protagonis, villain-superhero. 

Di tengah menonton salah satu film saya mengambil kesimpulan,

"Apakah villain itu terbentuk, ketika seorang superhero yang menjadi patokan moral masyarakat, sengaja ataupun tidak, memberikan penolakan atau tanggapan negatif terhadap sebuah karakter tertentu, yang pada akhirnya memutuskan untuk mengamini tanggapan tersebut? Yang barangkali apabila sang superhero bertindak lain, seorang karakter villain baru tidak jadi terbentuk?"

Lupakan membahas dan menjabarkan karakter-karakter mana saja dan di cerita apa saja premis di atas menjadi valid. Saya lebih tertarik membahas ini: pernahkah di kehidupan kita, secara sadar ataupun tidak, kita berlaku sesuatu yang mengubah pandangan seseorang? Ini adalah perspektif lain dari banyak cerita tentang orang-orang yang jalan hidupnya berubah karena sepatah kata random yang dicetuskan seseorang di hari yang random pada momennya tepat. Apakah kita secara tak sadar telah menginspirasi dan membentuk sebuah persona, di keseharian kita?

Hal-hal sederhana saja contohnya. Di acara kaderisasi, ketika kita menjadi senior, argumen kita barangkali terpatri begitu dalam kepada junior yang sedang berada di bawah tekanan. Atau barangkali atasan terhadap bawahan. Guru terhadap murid. Bahkan sesama kawan. 

Mengimani (sendirian) premis awal saya di atas, saya menggarisbawahi sebuah niat:

Bahwa pribadi yang lengkap dan utuh tak akan begitu mudah terpahat selenting guyon yang tak matang diolah. Yang hanya sekelebat dan tak bermaksud jahat.

Dan lidah.

Lidah adalah alat. Lidah adalah kambing hitam. Lidah yang membuat semuanya menjadi mungkin.

di-beranda:

Oleh: Rofianisa Nurdin

Barangkali kita masih samar-samar teringat betapa inginnya kita memiliki teman seperti Doraemon, atau setidaknya, sebuah “pintu ke mana saja.” Imajinasi kanak-kanak tentang gerbang menuju ruang pelarian; dunia yang benar-benar asing, yang tak tahu kita punya setumpuk PR di rumah. Barangkali dalam setiap kita terdapat sisi kekanakan yang diam-diam masih menyimpan proyeksi harapan tersebut, memeliharanya hati-hati, mengimaninya di alam bawah sadar.

Sampai suatu ketika, kita diperkenalkan oleh Internet. Dunia di mana benak kita diubah menjadi bit-bit melalui jemari menuju sekotak layar berwarna, dibuai dengan iming-iming untuk dapat melanglangbuana kemanapun yang dikehendakinya.

Sebuah realitas alternatif dengan masing-masing pribadi sebagai pencipta bagi avatar dirinya. Wadah untuk menjajakan, memamerkan, mendokumentasi apa-apa yang mereka bayangkan dapat menjadi representasi diri; apapun yang dapat dihasilkan dari tarian jemari dan kemampuan mereka aksara. Jadilah sebuah persona baru! Tambal-sulam dari harapan, observasi sekitar, dan sedikit karakter awal yang dipelintir sehingga sedikit-banyak, dramatis.

Di dunia itu, apapun bisa terjangkau oleh sebaris kata kunci. Satu klik saja untuk berpindah ke lain lokasi. Perkara menemukan dan ditemukan hanya berjarak selemparan spasi.

Sehingga tak sedikit benak-benak yang terperangkap di dunia baru tersebut, mengabaikan kehidupan sosial jasmaninya di dunia yang sebenar-nya. Menjadi jasad-jasad kosong yang bergerak mengikuti arus, sembari menatap sekotak kecil jendela menuju dunia maya di tangannya. Meski tak sedikit pula yang berhasil mengambil keuntungan dari keduanya.

Seorang berkacamata seperti pantat botol dan memiliki kantung mata yang seakan tak pernah memiliki cukup jam tidur sepanjang hidupnya itu, bisa jadi seorang pemimpin klan besar di dunia peperangan game online.

Perempuan muda yang tak akan kau lirik dua kali jika berpapasan di jalan itu, bisa jadi penakluk belasan laki-kali kaukasia di benua nun jauh sana.

Anak kecil ingusan yang kerap merengek dibelikan eskrim di toserba 24 jam itu, bisa jadi seorang bintang instagram yang kedipan matanya menyihir banyak jempol untuk meninggalkan jejak di postingannya.

Kini semua manusia memiliki gangguan identitas disosiatif. Setiap orang bukanlah dirinya yang sebagian orang kenal. Orang-orang bipolar.

Kini semua manusia, setidaknya, memiliki sebuah kehidupan dibalik lapisan-lapisan kehidupan lain yang begitu gegap, yang dapat ia pelihara.

Meski setumpuk PR, selamanya menunggu di balik pintu yang tak akan ia buka.

Second edition of our collective stories from the women’s perspective. My piece.