Blabber Mouth Disease

anything my blabber-mouthed mind would like to share.

I write poems, short stories, journals, or just a rude heartless scribbles.

disclaimer: every post is a form of twisted reality, otherwise advised. oh and, pardon my language.

free counters
Free counters

Nice Posts
Nice Blogs

di-beranda:

TULISAN: ROFIANISA NURDIN

FOTO: LUKMAN HAKIM

image

Kota adalah simpul. Kota adalah tempat kepentingan berkumpul. Kota adalah stasiun: tempat orang-orang datang, orang-orang pergi. Orang-orang yang (bersikukuh) tinggal dan orang-orang yang tak (pernah) kembali.
Bagi sebagian orang, kota itu…

Pernah dimuat di Majalah Ruang, saya memutuskan menghadirkannya kembali di Beranda, karena memiliki tema yang relevan. Selamat menilik ulang makna pulang. :)

di-beranda:

Adalah tempat perempuan bercerita. Dalam sebuah sore menuju petang; mengulas hal-hal keseharian ditemani secangkir teh dan penganan ringan buatan sendiri. Bersama keluarga, tetangga, kerabat, maupun seseorang yang sedang dekat.


Beranda adalah tempat dialog dan argumen bertemu. Tempat kompromi didiskusikan dan keraguan diutarakan, tempat mengekspresikan pemikiran dari sudut pandang perempuan.

Di Beranda kita menyapa, untuk sekadar mampir ataupun tinggal. Dalam derap langkah yang gegas ataupun hati yang terbuka, kelak di Beranda, kita akan bertemu kembali.

Selamat sore, mari ngeteh sambil bincang hore! :)

Doing homework, meeting, catching up, escaping, having me-time: all in one small place. What’s the use of our own living room nowadays? (at Toodz House)

Di kotanya saya tak pernah merasa asing. Dan tak sekalipun dibiarkannya berjalan sendiri.

Ia tak mengitari keretanya untuk membukakan pintu, karena tak perlulah berlebihan begitu. Pesannya kepada sekuriti dengan bahasa yang asing tapi bernada lucu saja sudah membuat saya tersenyum-senyum sepanjang sisa perjalanan dari lobi ke kamar paling depan.

Perjalanan singkat yang mempersilahkan saya berpikir:

Dalam hitungan tahun ia bisa jadi menyematkan benda mungil yang menjungkirbalikkan hidup banyak orang, ke jari seorang asing yang ia temukan diantara milyaran bit semesta. Yang tanpa usaha membuat laki-laki ini bertekuk lutut, menonaktifkan logikanya yang butut.

Atau, ia bisa saja mati esok hari.

Atau, memilih menjadi pendeta.

Seorang punguk telah terbang ke bulan.

Dibiarkannya aku meratapi malam di atas atap. Ketika kuketuk kamarnya, hanya hening yang menjawab. Ia tak kutemukan di mana-mana. Tak juga dalam siang yang pengap, diantara mereka yang selalu tergesa.

Saya, bisa saja mati esok hari.

Almost every Sekeping project that Sek San embarks on has a special significance to its location. Where possible he seeks to restore and preserve the heritage of the affected building or area; and in doing so help revive the community living in its surroundings.

Sek San shares, “My friends and I are from Ipoh, and we always wanted to see how we could make some kind of contribution to our home town. Suddenly this piece of property came up, this three-storey neo-classical building which was likely to be bought up by some developers and mown down to make way for a high rise.

- Click the title to read more

Setiap beberapa hari sekali, sebelum masuk kantor, teman-teman kantor punya ritual lari pagi 5 km keliling komplek sekitar kantor. Lalu sarapan bakmi di komplek sebelah, setelahnya. Saya hanya ikut ritual sarapan, karena tidak suka aktivitas lari. Harafiah atau konotasi? Beberapa pernah bertanya. Ah, basi.

Tapi satu-dua kali di waktu senggang ketika yang bisa saya lakukan hanya berpikir, memutar ulang kejadian menyenangkan, atau merencanakan beberapa hal; saya pun memikirkan sentilan tadi. Apakah saya juga tak suka berlari, dalam konteks konotatif, dalam realitas, dalam hal-hal yang perlu dihadapi meski tak menyenangkan? Apakah saya tidak pernah mencoba lari dari, (alamak usangnya istilah ini…), kenyataan?

Ternyata, saya sedang melakukannya.

Di bulan Oktober, saya tak pernah berpikir untuk berada di tempat saya saat ini. Saat itu saya hanya berpikir untuk menulis, berharap dapat mengisi perut dengan kemampuan yang paling saya andalkan tersebut, dan berasumsi bahwa hal-hal menyenangkan seperti menghasilkan uang tanpa perlu duduk di belakang meja lebih dari 40 jam seminggu adalah, bisa saja terjadi. Setelah catur wulan pertama, realitas tampak menjanjikan. Sebelum pada akhirnya banyak hal yang terjadi di luar perkiraan.

Singkat kata, ketika serangkaian rencana di ambang kegagalan, hal naluriah yang dapat saya lakukan adalah menyelamatkan diri. Berlari mencari perlindungan terdekat, sembari menyusun kembali rencana B: bertahan hidup dengan apapun yang tersisa di genggaman. Meski, saya tak bisa menepis pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepala:

Apakah saya sedang berkhianat, atau saya yang sebenarnya terkhianati?
Apakah saya melanggar janji yang saya gores dengan pena di tangan saya sendiri?
Apakah saya merugikan pihak-pihak lain, atau saya yang sedang digerogoti dari dalam?
Apakah saya, dan bukan kamu, kamu, kalian; …yang salah?

Dari sisi mana kita harus mengacu dalam argumentasi kasual, yang perlahan meski diam-diam mematikan, yang berselang tawa meski mata kita tak berbinar bahagia?

“Rofi, kamu terlalu mendramatisir.” Gibran, kamu tahu apa tentang saya?

*

Saya memandangi folder pekerjaan di hadapan. Lalu tab ms.word kosong di sebelahnya. Betapapun saya mencoba merampungkan sisa-sisa hutang yang harus saya serahkan; dalam kepulan asap kalut bercampur prasangka, kecewa, marah, keraguan, dan tiga tahun pertanyaan yang tak pernah bisa terjawab dalam ruang imajiner paling besar yang bisa saya hadirkan dalam kepala;

…saya menyerah.

Saya tidak merencanakan hal ini. Sungguh. Kemungkinan besar langit cerah dan udara yang tak terlampau panas (meski jelas terik) yang menjadi dalang di balik semua ini.

Langkah kakimu ringan, menoleh dan berceloteh sesekali. Menyapa wajah-wajah familiar, menjabarkan ruang-ruang yang terlalui. Saya berkesempatan menjabat tangan seorang kolegamu. Lalu kita berlalu, mengabsen satu demi satu sudut-sudut yang biasa kau singgahi: entah untuk secangkir kopi pagi, atau segelas bubble tea dingin di sore hari. Kau mentraktirku satu. Aku memilihkan minuman untukmu. Untuk beberapa langkah ke depan kita larut bersama es, gula, susu, lendir hitam, dan tentu saja: rasa teh yang samar-samar.

Kau mulai berbicara tentang hal-hal yang tak tertera di atas kisi-kisi jendela, ataupun di depan setiap ruang berdinding kaca. Obrolan kita berakhir di antara dua rak buku. Di sudut mati.

Lalu ada yang tumbuh. Perlahan dan tanpa permisi. Ia hadir barangkali dari ujung ruang yang kerap tak tersambangi, dingin diterpa angin dari pengkondisi udara. Pada sekian rentang waktu ia mati suri, lalu barangkali, dihidupkan oleh dua orang asing yang tak pernah berhenti bertanya tentang pikiran masing-masing. Tentang apapun.

Geming yang asing. Yang lamat-lamat. Dalam jeda itu saya bersumpah pikiran saya berhenti bertanya. Mungkin malah, ia berhenti melakukan apa-apa.

minggra:

"Let Her Go" - Passenger (Tyler Ward & Kurt Schneider)

will you?

I wish I could be brave enough to embrace new year, without having a conversation over coffee, over people, over things that matter in our social network with you anymore…. I wish I could be strong enough to come to events without seeing you within the crowd, talking gleefully to a lot of important people. Yesterday when I came to Erasmus Huis, where the last time I went there I met you and took a picture with you and talking stuff with you, I couldn’t stand not crying. I couldn’t bear not imagining you sitting on the front seat, smiling.

So many things, so many projects, so many stories I’d wanted to tell you. I am a proud student to be guided by you, Sir.

I wish I could be tough enough to ever let you go.